FAKTAPUBLIK.ID – Kampanye pamungkas pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Boalemo 2024, Rum Pagau dan Lahmudin Hambali, berlangsung dengan penuh emosi dan keharuan di Desa Pentadu Barat, Kecamatan Tilamuta, pada Kamis (21/11). Ribuan pendukung hadir dalam acara tersebut, namun suasana menjadi sangat hening saat Lahmudin Hambali mulai menceritakan sejarah perjuangan para tokoh masyarakat yang berjuang keras untuk memisahkan Boalemo dari Kabupaten Gorontalo dan mempertahankan Tilamuta sebagai ibu kota kabupaten.
Lahmudin, yang dikenal sebagai Panglima Organisasi Forum Kota (Forkot), mengungkapkan bahwa Kabupaten Boalemo terbentuk pada tahun 1999 yang perjuangannya dimulai oleh tokoh tokoh terdahulu sejak tahun 1964.Namun disayangkan, peristiwa besar terjadi pada tahun 2003, ketika keberadaan pasal 7 dan 8 yang mencantumkan rencana pemindahan ibu kota Boalemo dari Tilamuta ke Marisa, memicu gelombang protes besar. Aksi ini melibatkan tokoh masyarakat dan pemuda Boalemo yang tergabung dalam Forkot.
Aksi protes yang dilakukan oleh ribuan orang di bawah kepemimpinan Lahmudin Hambali itu berujung pada insiden serius. Dalam kericuhan tersebut, Lahmudin ditendang, dipukul, dan bahkan nyaris terkena peluru aparat keamanan. Meskipun menghadapi ancaman serius, Lahmudin dan rekan-rekannya, seperti Helmi Umar, Sunaryo Abas, Hardi Mopangga, Herman Bater, dan Eka Putra Noho, Ato Sapana dan para pemuda lainnya serta tokoh tokoh masyarakat tetap berjuang untuk mempertahankan Tilamuta sebagai ibu kota Boalemo.
“Ketika saya terjatuh, saya tak sadarkan diri. Setelah sadar, saya dibawa ke Polda Gorontalo dan dipertemukan dengan Kapolda serta Gubernur Fadel Mohamad,” kenang Lahmudin dalam orasi politik yang menggugah emosi ribuan pendukungnya.
Lahmudin juga mengingatkan bahwa perjuangan tersebut bukan hanya soal mempertahankan ibu kota, tetapi juga untuk memastikan Boalemo tetap berdiri sebagai kabupaten yang independen. “Kami berjuang agar Boalemo tetap ada di sini, karena kami tahu betul betapa besar perjuangan panjang yang telah dilakukan oleh tokoh tokoh Boalemo sejak 1964,” tegasnya.
Pada akhirnya, perjuangan para aktivis Boalemo membuahkan hasil. Pemerintah pusat memutuskan untuk melakukan pemekaran wilayah, yang menjadikan Marisa sebagai ibu kota Kabupaten Pohuwato dan membiarkan Boalemo tetap berdiri sebagai kabupaten yang terpisah dari Kabupaten Gorontalo.
Selain mengenang sejarah perjuangan, Lahmudin Hambali juga memuji sosok Rum Pagau sebagai pemimpin yang telah terbukti membawa kemajuan bagi Boalemo.
“Pak Rum adalah pemimpin yang tulus, ikhlas, dan serius. Beliau memikirkan rakyat dan membangun Boalemo tanpa pandang bulu,” kata Lahmudin.
Sejak menjabat Bupati Boalemo pada periode 2012-2017, Rum Pagau dikenal dengan pemerataan pembangunan di seluruh kecamatan, menjadikan Boalemo dikenal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.
“Pak Rum tidak hanya membangun di satu tempat, tetapi merata di seluruh wilayah. Kini, Boalemo dikenal di mancanegara, dan banyak wisatawan asing yang datang ke sini,” ujar Lahmudin.
Karena itu, Lahmudin dengan tegas menyatakan kesiapan dirinya untuk mendampingi Rum Pagau dalam Pilkada 2024.
“Pandang mata Pak Rum Pagau, apakah ada penghianatan atau tidak, apakah ada kebohongan dalam membangun Boalemo,apakah ada kemunafikan,Tatap wajahnya yang serius, lihatlah keikhlasannya dalam membangun Boalemo. Di matanya, kita melihat perjuangan yang tak pernah lelah,” kata Lahmudin.
Dengan semangat juang yang tinggi dan visi pembangunan yang jelas, pasangan Rum Pagau-Lahmudin Hambali siap melanjutkan perjuangan pembangunan yang telah mereka rintis untuk Boalemo yang lebih maju dan sejahtera.(*) Ly












