FAKTAPUBLIK.ID — BOALEMO. Pemerintah Kabupaten Boalemo kembali mencatat capaian membanggakan dalam program percepatan penurunan stunting. Berdasarkan laporan terbaru, angka stunting di Kabupaten Boalemo kini turun hingga 8 persen, jauh di bawah target nasional 14 persen.
Capaian ini disampaikan Wakil Bupati Boalemo, Lahmudin Hambali, S.Sos., M.Si, saat memimpin Rapat Koordinasi Program Percepatan Penurunan Stunting, yang berlangsung di Kantor Bappeda Kabupaten Boalemo, Selasa (28/10/2025).
Dalam arahannya, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras menurunkan angka stunting di Boalemo. Ia juga mengingatkan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mempertahankan sekaligus mempercepat capaian tersebut.
“Saat ini angka stunting kita sudah berada di 8 persen. Ini artinya Boalemo berhasil melampaui target nasional yang ditetapkan sebesar 14 persen. Untuk itu, saya mengajak kita semua agar terus bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing,” ujar Lahmudin.
Ia menegaskan bahwa upaya percepatan penurunan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab satu dinas, tetapi tugas bersama seluruh perangkat daerah dan elemen masyarakat.
“Semua sektor harus bergerak bersama, terutama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, terlebih bagi keluarga dan anak-anak yang membutuhkan perhatian dan sentuhan nyata dari kita semua,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala DPPKBP3A Kabupaten Boalemo, Dr. Robert Pauweni, SKM., M.Kes, menuturkan bahwa program percepatan penurunan stunting merupakan program nasional yang harus terus dioptimalkan di tingkat daerah.
“Program stunting ini adalah program nasional, dan keberhasilannya tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah serta semua pihak yang terlibat. Angka stunting kita yang kini di bawah target nasional merupakan hasil kerja keras bersama. Untuk itu, saya menyampaikan terima kasih atas komitmen semua pihak,” ungkap Robert.
Dengan capaian tersebut, Kabupaten Boalemo menjadi salah satu daerah di Provinsi Gorontalo yang berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan, sekaligus menjadi contoh penerapan program kolaboratif lintas sektor dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. (*)










