FAKTAPUBLIK.ID – Ada politik yang sekadar berbicara, dan ada politik yang bekerja.
Ada pemimpin yang menunggu disanjung, dan ada pemimpin yang memilih menembus hutan, menantang badai, demi memastikan rakyatnya hidup lebih terang.
Pemimpin yang dimaksud itu bernama Rusli Habibie, wakil rakyat yang menolak menyerah pada batas dan tak gentar menembus medan apa pun demi rakyatnya.
Dari kursi Komisi XII DPR RI, ia menjadikan Tangga Barito, desa kecil di ujung Boalemo, sebagai bukti bahwa politik sejati bukan soal jabatan, tapi perjuangan yang membakar semangat untuk menyalakan harapan rakyat.
Selama bertahun-tahun warga Tangga Barito hidup dalam kegelapan.
Namun pada 23 Oktober 2025, malam mereka berubah.
Untuk pertama kalinya listrik menyala bukan sekadar sinar lampu, tapi sinar perjuangan.
Sinar dari tangan seorang pemimpin yang tidak pernah lupa pada janji dan tanggung jawabnya.
Pembangunan jaringan listrik sepanjang 18 kilometer dengan enam gardu distribusi melintasi hutan dan tebing bukan hal mudah.
Medan berat, hujan deras, dan longsor tidak menghentikan langkah ini.
Sebab di balik setiap kabel yang ditarik, ada semangat seorang Rusli Habibie yang menyala,
bahwa rakyat, di mana pun mereka berada, berhak menikmati kemerdekaan yang sesungguhnya termasuk kemerdekaan dari kegelapan.
Dan di tengah keberhasilan itu, suara apresiasi pun datang dari pemerintah daerah. Wakil Bupati Boalemo Lahmuddin Hambali menegaskan, keberhasilan ini bukan proyek biasa. Ini adalah cermin kepedulian, bukti ketulusan, dan simbol keberpihakan politik yang sejati.
“Beliau telah membuktikan bahwa dengan kemauan dan komitmen kuat, pembangunan bisa menjangkau daerah terpencil seperti Tangga Barito. Listrik ini bukan hanya menerangi rumah, tapi juga membangkitkan semangat dan ekonomi masyarakat,” ujar Lahmuddin.
Inilah politik yang seharusnya:
politik yang menyalakan kehidupan, bukan memadamkan harapan.
Politik yang menggerakkan rakyat untuk bangkit, bukan membuat mereka pasrah menunggu janji.
Rusli Habibie telah menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa keberpihakan adalah kehampaan.
Ia memilih menjadi jembatan antara rakyat dan negara, bukan sekadar penghubung kata-kata dan pidato.
Ia hadir, bekerja, memastikan bahwa anak-anak di Tangga Barito bisa belajar di bawah cahaya lampu, bukan cahaya lilin.
Dan di situlah makna sejati dari perjuangan politik,
bukan seberapa tinggi pangkat seseorang,
tetapi seberapa jauh ia mau berjalan demi rakyat kecil.
Kini Tangga Barito tak lagi gelap.
Malamnya kini terang oleh cahaya listrik. (*) ly












