FAKTAPUBLIK.ID — Di tengah semangat reformasi kurikulum dan pendekatan pendidikan ramah anak, SD Negeri 04 Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo justru diduga memantik kegaduhan. Seorang orang tua siswa yang kami samarkan namanya menjadi Yuni meluapkan kekecewaannya setelah mengetahui bahwa anaknya, bersama lima siswa lainnya, diduga tidak naik kelas secara sepihak tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya.
Tak hanya kecewa, Yuni bukan nama aslinya mengaku terpukul dan merasa dikhianati oleh sistem pendidikan yang semestinya berpihak pada anak dan keluarga. Ia menilai guru-guru di SDN 04 Botumoito telah mengabaikan tanggung jawab mereka dalam membangun komunikasi dengan orang tua selama proses pembelajaran berlangsung.
“Saya bukan satu-satunya. Ada enam anak yang tidak naik kelas di sekolah itu. Tidak ada pemberitahuan, tidak ada evaluasi, tiba-tiba anak saya divonis tak layak naik. Ini bukan hanya mencederai hati orang tua, tapi menghancurkan semangat anak-anak,” tegasnya dengan nada kecewa.
Selama satu tahun ajaran berjalan, menurut pengakuannya, tak sekalipun pihak sekolah atau wali kelas menghubunginya untuk menyampaikan perkembangan atau kendala belajar yang dialami oleh anaknya. Ia menyayangkan lemahnya komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan utama antara orang tua di rumah dan guru di sekolah.
“Seharusnya gurunya menyampaikan kalau anak saya kesulitan. Saya orang tuanya, saya bisa bantu. Tapi ini? Tidak ada komunikasi sama sekali,” kecamnya.
Kondisi ini, lanjutnya, tidak hanya merugikan anak secara akademis, tetapi juga mengganggu kondisi mental dan emosional mereka. Anak-anak yang tidak naik kelas disebutnya mengalami tekanan psikologis, merasa malu, dan keputusan ini seolah menjadi pukulan yang menjatuhkan mereka secara mental.
“Anak saya mengalami stres di rumah, dia selalu bicara ke saya: mama, teman teman nunu sudah kelas 4. Bikin sayang, saya sebagai orang tua tidak tega melihat anak saya lemas seperti itu,” ungkapnya lirih.
Yuni bukan nama aslinya adalah salah satu dari orang tua siswa yang mendesak agar pihak sekolah dan Dinas Pendidikan tidak menutup mata dan telinga atas dugaan kelalaian ini. Ia menilai bahwa guru seharusnya menjadi mitra yang aktif bukan pengambil keputusan yang otoriter dan tertutup.
“Kami orang tua bukan musuh, kami sekutu dalam mendidik. Tapi kalau kami tidak diajak bicara, bagaimana bisa kami ikut membantu?” katanya lagi.
Kasus ini membuka fakta tak terbantahkan bahwa masih ada sekolah dasar yang tampaknya gagal menempatkan orang tua sebagai bagian penting dalam proses pendidikan anak. Enam siswa dinyatakan tidak naik kelas, namun diduga tak ada upaya dari pihak sekolah untuk menjelaskan secara terbuka dan manusiawi apa alasan yang mendasarinya.
“Saya mohon, Dinas Pendidikan segera turun tangan. Jangan sampai ini jadi budaya. Jangan tunggu anak-anak kehilangan semangat hanya karena sistem yang tak mau bangun komunikasi,” pungkasnya.
Dengan banyaknya siswa yang tidak naik kelas, mulai muncul dugaan adanya kelemahan dalam kepemimpinan kepala sekolah serta rendahnya kinerja para guru di SD Negeri 04 Botumoito. Diduga pula bahwa proses pembelajaran di sekolah ini tidak berjalan secara optimal, termasuk dugaan pembiaran terhadap ketidakhadiran guru di kelas, serta kurangnya pendampingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan akademik. Jika dugaan-dugaan ini benar, maka masalahnya bukan hanya pada keputusan sepihak yang mengejutkan orang tua, tetapi lebih jauh menyentuh soal kualitas manajemen pendidikan, budaya kerja guru, dan tanggung jawab moral sebuah institusi yang mestinya menjadi tempat tumbuhnya semangat belajar anak-anak. (*) Ly






